Senin, 14 September 2026

Program Kokurikuler (Mewujudkan Pembelajaran yang Bermakna, Kontekstual, dan Mendalam)

 

PROGRAM KOKURIKULER DI SEKOLAH

Mewujudkan Pembelajaran yang Bermakna, Kontekstual, dan Mendalam

Oleh: Zulfian Yusmana, S.Pd., M.Pd.

Pendahuluan

Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan agar peserta didik menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk memahami kehidupan, menyelesaikan masalah, bekerja sama, mengambil keputusan, serta membangun karakter yang baik. Sekolah perlu menghadirkan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata.


Dalam konteks tersebut, program kokurikuler memiliki posisi yang sangat strategis. Kokurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan di luar pembelajaran, melainkan bagian dari pengalaman pendidikan yang dirancang secara sistematis untuk memperkuat, memperluas, memperdalam, dan mengontekstualisasikan pembelajaran peserta didik.

Kebijakan kurikulum saat ini memberikan ruang yang semakin luas kepada satuan pendidikan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik satuan pendidikan. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 merupakan perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang kurikulum pada PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Sejalan dengan perkembangan kebijakan tersebut, penguatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) menjadi momentum penting untuk mengubah paradigma kegiatan sekolah: dari sekadar menyelesaikan kegiatan menjadi menciptakan pengalaman belajar yang benar-benar memberikan pemahaman, pengalaman, refleksi, dan dampak bagi peserta didik.


A. Memahami Hakikat Program Kokurikuler

Kokurikuler dapat dipahami sebagai kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik serta menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata.

Jika pembelajaran intrakurikuler banyak berfokus pada pencapaian tujuan pembelajaran melalui mata pelajaran, maka kokurikuler memberikan ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk mengalami, menerapkan, berkolaborasi, berkarya, memecahkan masalah, dan melakukan refleksi.

Dengan demikian, kokurikuler bukan:

  • kegiatan pengisi waktu;

  • kegiatan seremonial semata;

  • sekadar perlombaan;

  • kegiatan tambahan yang tidak memiliki tujuan pembelajaran;

  • atau aktivitas yang hanya menghasilkan dokumentasi.

Kokurikuler seharusnya menjadi jembatan antara pengetahuan di kelas dengan kehidupan nyata.

Peserta didik tidak hanya belajar tentang lingkungan, tetapi melakukan aksi menjaga lingkungan. Tidak hanya belajar tentang kewirausahaan, tetapi merancang dan menjalankan kegiatan usaha sederhana. Tidak hanya belajar tentang kesehatan, tetapi membangun kebiasaan hidup sehat.

Dengan pendekatan tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih autentik.


B. Kokurikuler dalam Kerangka Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan lingkungan.

Dokumen kebijakan kurikulum juga menempatkan pembelajaran sebagai proses yang dapat berlangsung melalui berbagai bentuk kegiatan. Misalnya, suatu kompetensi dapat dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler sesuai tujuan dan konteksnya.

Oleh karena itu, sekolah perlu melihat ketiga bentuk kegiatan tersebut sebagai sebuah ekosistem yang saling melengkapi.

1. Intrakurikuler

Intrakurikuler merupakan pembelajaran utama yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam struktur kurikulum.

2. Kokurikuler

Kokurikuler memberikan pengalaman belajar yang memperkuat dan memperluas pembelajaran melalui kegiatan yang lebih kontekstual, kolaboratif, aplikatif, dan reflektif.

3. Ekstrakurikuler

Ekstrakurikuler memberikan ruang pengembangan minat, bakat, potensi, kepemimpinan, dan berbagai kecakapan peserta didik sesuai karakteristik serta sumber daya sekolah.

Ketiganya hendaknya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pembelajaran yang kuat terjadi ketika ketiganya saling terhubung.


C. Mengapa Kokurikuler Penting?

Perubahan zaman menuntut sekolah tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab soal, tetapi juga mampu menghadapi persoalan kehidupan.

Peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk:

  • berpikir kritis;

  • berkomunikasi;

  • bekerja sama;

  • berkreasi;

  • memecahkan masalah;

  • mengambil keputusan;

  • mengelola diri;

  • menjaga kesehatan;

  • memiliki kepedulian sosial;

  • serta memiliki karakter dan nilai yang kuat.

Kompetensi tersebut akan lebih mudah berkembang apabila peserta didik memperoleh pengalaman nyata.

Karena itu, kegiatan kokurikuler perlu dirancang bukan berdasarkan pertanyaan:

“Kegiatan apa yang akan dilaksanakan sekolah?”

melainkan:

“Pengalaman belajar apa yang perlu dialami peserta didik agar tujuan pendidikan dapat tercapai?”

Perubahan pertanyaan tersebut merupakan langkah awal menuju kokurikuler yang berkualitas.


D. Kokurikuler dan Pendekatan Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran Mendalam menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif dalam membangun pemahaman melalui pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Pendekatan ini mendorong pembelajaran agar tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi, tetapi bergerak menuju kemampuan memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mencipta, dan merefleksikan pengalaman belajar.

Di sinilah kokurikuler memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Pembelajaran Mendalam.

Kegiatan kokurikuler memungkinkan peserta didik:

Mengalami → Memahami → Menerapkan → Berkolaborasi → Menghasilkan Karya/Aksi → Merefleksikan → Memperbaiki

Siklus tersebut membuat pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas.


E. Tiga Prinsip Penting Kokurikuler Berbasis Pembelajaran Mendalam

1. Berkesadaran

Kegiatan harus membuat peserta didik memahami:

  • mengapa kegiatan dilakukan;

  • apa yang akan dipelajari;

  • apa peran mereka;

  • apa yang harus dilakukan;

  • dan bagaimana mereka mengetahui bahwa tujuan telah tercapai.

Peserta didik tidak sekadar mengikuti instruksi guru, tetapi memahami tujuan dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

Contohnya, ketika sekolah melaksanakan kegiatan penghijauan, peserta didik tidak hanya diminta menanam pohon.

Guru mengajak peserta didik memahami:

Mengapa lingkungan sekolah perlu dihijaukan?

Apa dampaknya terhadap kesehatan dan kenyamanan?

Apa yang akan terjadi jika tanaman tidak dirawat?

Pertanyaan tersebut membangun kesadaran.

2. Bermakna

Kegiatan harus berhubungan dengan kehidupan peserta didik.

Pembelajaran akan lebih bermakna ketika peserta didik dapat menjawab:

“Apa manfaat kegiatan ini bagi saya, sekolah, keluarga, dan masyarakat?”

Misalnya, kegiatan kokurikuler tentang pengelolaan sampah dapat dikaitkan dengan:

  • kondisi sampah di sekolah;

  • kebiasaan peserta didik;

  • kebersihan lingkungan rumah;

  • pencemaran sungai;

  • pemanfaatan sampah;

  • dan kesehatan masyarakat.

Dengan demikian, peserta didik melihat hubungan antara pembelajaran dengan kehidupan nyata.

3. Menggembirakan

Pembelajaran mendalam tidak berarti pembelajaran yang berat.

Kegiatan justru perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar dengan rasa aman, antusias, aktif, dan menyenangkan.

Kegiatan kokurikuler dapat dikemas melalui:

  • permainan edukatif;

  • eksplorasi lingkungan;

  • proyek;

  • eksperimen;

  • wawancara;

  • kunjungan;

  • diskusi;

  • seni;

  • olahraga;

  • pameran karya;

  • presentasi;

  • aksi sosial;

  • dan berbagai aktivitas kreatif.

Kegembiraan bukan tujuan akhir, tetapi menjadi suasana yang mendukung peserta didik untuk terlibat secara optimal dalam proses belajar.


F. Kokurikuler sebagai Wahana Penguatan Profil Lulusan

Dalam implementasi kurikulum saat ini, sekolah perlu memastikan bahwa kegiatan pembelajaran memberikan kontribusi terhadap pembentukan profil lulusan.

Karena itu, setiap program kokurikuler sebaiknya memiliki hubungan yang jelas dengan kompetensi dan karakter yang ingin dikembangkan.

Program dapat diarahkan untuk mengembangkan antara lain:

  1. keimanan dan ketakwaan;

  2. kewargaan;

  3. penalaran kritis;

  4. kreativitas;

  5. kolaborasi;

  6. kemandirian;

  7. kesehatan; dan

  8. komunikasi.

Kedelapan aspek tersebut tidak perlu diajarkan secara terpisah.

Satu kegiatan kokurikuler dapat mengembangkan beberapa dimensi sekaligus.

Misalnya, Proyek Kebun Sekolah dapat mengembangkan:

  • keimanan melalui rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan;

  • penalaran kritis melalui pengamatan pertumbuhan tanaman;

  • kreativitas melalui desain kebun;

  • kolaborasi melalui kerja kelompok;

  • kemandirian melalui tanggung jawab merawat tanaman;

  • kesehatan melalui pemahaman pangan sehat;

  • komunikasi melalui presentasi hasil kegiatan.

Inilah kekuatan kokurikuler.


G. Prinsip Perencanaan Program Kokurikuler

Agar kokurikuler tidak menjadi kegiatan yang bersifat insidental, sekolah perlu merencanakannya secara sistematis.

Perencanaan dapat menggunakan alur berikut:

1. Identifikasi kebutuhan

Sekolah melakukan pemetaan:

  • karakteristik peserta didik;

  • kebutuhan belajar;

  • lingkungan sekolah;

  • potensi daerah;

  • masalah yang dihadapi sekolah;

  • sumber daya;

  • serta hasil evaluasi dan refleksi pembelajaran.

2. Menentukan tujuan

Tujuan harus menjawab:

Kompetensi, karakter, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman apa yang diharapkan berkembang?

3. Menentukan tema/konteks

Tema sebaiknya dekat dengan kehidupan peserta didik.

Contohnya:

  • Sekolahku Bersih dan Sehat;

  • Pangan Lokal;

  • Ketahanan Pangan;

  • Budaya Daerah;

  • Literasi Finansial;

  • Kewirausahaan;

  • Konservasi Lingkungan;

  • Hidup Sehat;

  • Permainan Tradisional;

  • Teknologi Tepat Guna;

  • Kearifan Lokal.

4. Merancang aktivitas

Aktivitas harus memungkinkan peserta didik untuk:

mengamati – bertanya – mencari informasi – berdiskusi – mencoba – menghasilkan karya/aksi – mempresentasikan – merefleksikan.

5. Menentukan asesmen

Asesmen tidak hanya menilai produk akhir.

Proses juga penting.

Guru dapat mengamati:

  • keterlibatan;

  • kerja sama;

  • tanggung jawab;

  • kemampuan memecahkan masalah;

  • kreativitas;

  • komunikasi;

  • kemandirian;

  • dan kemampuan melakukan refleksi.


H. Contoh Program Kokurikuler SD Berbasis Pembelajaran Mendalam

Berikut contoh sederhana yang dapat dikembangkan oleh satuan pendidikan.

ProgramAktivitas UtamaKompetensi yang DikembangkanProduk/Aksi
Sekolah Bersih dan SehatAudit lingkungan sekolahPenalaran kritis, kolaborasiPeta masalah lingkungan
Kebun SekolahMenanam dan merawat tanamanKemandirian, kesehatan, kolaborasiKebun sekolah
Pangan LokalMengenal pangan khas daerahKreativitas, komunikasiPameran pangan lokal
Bank SampahMemilah dan mengelola sampahPenalaran kritis, tanggung jawabBank sampah sekolah
Pasar MiniSimulasi jual beliKomunikasi, kreativitas, numerasiBazar karya
Permainan TradisionalEksplorasi permainan daerahKesehatan, kolaborasi, kewargaanFestival permainan
Jelajah BudayaWawancara tokoh masyarakatKomunikasi, kewargaanDokumentasi budaya
Literasi FinansialMengelola uang sederhanaKemandirian, penalaranCatatan keuangan sederhana
Aksi Peduli SesamaKegiatan sosialKeimanan, kewargaan, kolaborasiAksi sosial
Teknologi Tepat GunaMembuat solusi sederhanaKreativitas, penalaranPrototipe sederhana

I. Contoh Alur Kokurikuler “Sekolah Bersih dan Sehat”

Sebagai contoh, sekolah dapat melaksanakan program:

“Sekolahku Bersih, Sehat, dan Nyaman”

Tahap 1 – Mengamati

Peserta didik melakukan observasi lingkungan sekolah.

Mereka mencatat:

  • kondisi halaman;

  • kebersihan kelas;

  • kondisi toilet;

  • tempat sampah;

  • penggunaan air;

  • kondisi taman;

  • dan kebiasaan warga sekolah.

Tahap 2 – Menemukan Masalah

Peserta didik berdiskusi:

Apa masalah utama lingkungan sekolah kita?

Mengapa masalah tersebut terjadi?

Apa dampaknya?

Tahap 3 – Mencari Solusi

Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk menyusun solusi.

Misalnya:

  • pemilahan sampah;

  • pembuatan poster;

  • penataan taman;

  • penghematan air;

  • jadwal perawatan tanaman;

  • kampanye kebersihan.

Tahap 4 – Melaksanakan Aksi

Peserta didik menerapkan solusi yang telah dirancang.

Di sinilah pembelajaran menjadi nyata.

Tahap 5 – Mempresentasikan

Setiap kelompok menyampaikan:

  • masalah;

  • solusi;

  • proses;

  • hasil;

  • kendala;

  • dan perbaikan yang diperlukan.

Tahap 6 – Refleksi

Peserta didik menjawab pertanyaan:

Apa yang saya pelajari?

Apa yang paling menantang?

Apa kontribusi saya?

Apa yang berubah setelah kegiatan?

Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?

Tahap refleksi sangat penting karena membuat pengalaman berubah menjadi pembelajaran.

J. Peran Guru dalam Kokurikuler

Dalam program kokurikuler berbasis Pembelajaran Mendalam, guru tidak hanya berperan sebagai pemberi instruksi.

Guru berperan sebagai:

1. Perancang pengalaman belajar

Guru menentukan tujuan, konteks, aktivitas, sumber belajar, dan asesmen.

2. Fasilitator

Guru memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengeksplorasi, mencoba, dan menemukan.

3. Pembimbing

Guru membantu peserta didik ketika menghadapi kesulitan.

4. Pengamat

Guru mengamati proses belajar dan perkembangan peserta didik.

5. Pemberi umpan balik

Guru memberikan umpan balik yang membantu peserta didik memperbaiki proses dan hasil belajarnya.

6. Penggerak refleksi

Guru membantu peserta didik memahami apa yang telah mereka pelajari dan bagaimana pengalaman tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan.


K. Asesmen dalam Program Kokurikuler

Asesmen kokurikuler sebaiknya tidak hanya menggunakan tes tertulis.

Berbagai teknik dapat digunakan, antara lain:

  • observasi;

  • jurnal;

  • catatan anekdot;

  • portofolio;

  • penilaian kinerja;

  • penilaian produk;

  • presentasi;

  • wawancara;

  • penilaian diri;

  • penilaian antarteman;

  • dan refleksi.

Instrumen sederhana dapat menggunakan skala:

1 = Belum Berkembang

2 = Mulai Berkembang

3 = Berkembang Sesuai Harapan

4 = Sangat Berkembang

Namun yang paling penting bukan angka semata, melainkan informasi yang diperoleh guru untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan menentukan tindak lanjut.


L. Dokumentasi Bukan Tujuan Utama

Salah satu tantangan dalam pelaksanaan program sekolah adalah kecenderungan menjadikan dokumentasi sebagai ukuran keberhasilan.

Foto kegiatan memang penting.

Video juga penting.

Laporan juga penting.

Namun keberhasilan kokurikuler tidak dapat diukur hanya dari banyaknya foto dan tebalnya laporan.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apa yang berubah pada peserta didik setelah mengikuti kegiatan?

Apakah mereka menjadi lebih mandiri?

Apakah mereka mampu bekerja sama?

Apakah mereka mampu memecahkan masalah?

Apakah mereka lebih peduli terhadap lingkungan?

Apakah mereka mampu mengkomunikasikan gagasan?

Apakah mereka mampu merefleksikan pengalaman?

Jika terjadi perubahan tersebut, maka kokurikuler telah memberikan dampak pendidikan.


M. Kolaborasi sebagai Kekuatan Kokurikuler

Program kokurikuler akan lebih kuat apabila tidak hanya dikerjakan oleh guru.

Sekolah dapat melibatkan:

  • kepala sekolah;

  • guru;

  • tenaga kependidikan;

  • peserta didik;

  • orang tua;

  • komite sekolah;

  • masyarakat;

  • pemerintah desa;

  • dunia usaha;

  • komunitas;

  • dan berbagai mitra yang relevan.

Kolaborasi dengan masyarakat atau komunitas juga dapat menjadi bagian dari pengembangan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Dengan demikian, sekolah dapat menjadi bagian dari ekosistem masyarakat, bukan institusi yang terpisah dari kehidupan sekitarnya.


N. Kokurikuler Tidak Harus Mahal

Kegiatan kokurikuler yang baik tidak selalu membutuhkan anggaran besar.

Sekolah dapat memanfaatkan:

  • lingkungan sekitar;

  • halaman sekolah;

  • kebun;

  • perpustakaan;

  • pasar;

  • sungai;

  • sawah;

  • tempat ibadah;

  • tokoh masyarakat;

  • budaya lokal;

  • bahan bekas;

  • dan sumber daya yang tersedia di lingkungan.

Justru keterbatasan dapat menjadi bagian dari pembelajaran.

Peserta didik dapat belajar bahwa kreativitas dimulai dari kemampuan melihat potensi yang ada di sekitar mereka.


O. Dari “Kegiatan” Menjadi “Pengalaman Belajar”

Inilah perubahan paradigma yang sangat penting.

Kokurikuler jangan berhenti pada:

“Hari ini ada kegiatan.”

Tetapi berkembang menjadi:

“Hari ini peserta didik memperoleh pengalaman belajar.”

Perbedaannya sangat besar.

Kegiatan hanya berorientasi pada apa yang dilakukan.

Pengalaman belajar berorientasi pada:

apa yang dilakukan → apa yang dipikirkan → apa yang dipahami → apa yang dirasakan → apa yang dihasilkan → apa yang direfleksikan → apa yang berubah.

Inilah esensi Pembelajaran Mendalam.


P. Strategi Implementasi di Satuan Pendidikan

Untuk memastikan program berjalan secara konsisten, sekolah dapat menggunakan siklus berikut:

Pemetaan → Perencanaan → Pelaksanaan → Asesmen → Refleksi → Tindak Lanjut

1. Pemetaan

Gunakan data dan informasi yang tersedia, termasuk hasil refleksi pembelajaran dan kondisi satuan pendidikan.

2. Perencanaan

Susun program berdasarkan kebutuhan nyata.

3. Pelaksanaan

Berikan pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, kolaboratif, dan menyenangkan.

4. Asesmen

Kumpulkan bukti perkembangan peserta didik.

5. Refleksi

Analisis keberhasilan dan hambatan.

6. Tindak lanjut

Perbaiki program berdasarkan hasil refleksi.

Siklus ini menjadikan kokurikuler sebagai bagian dari budaya peningkatan kualitas sekolah, bukan kegiatan tahunan yang selesai setelah laporan dibuat.


Q. Indikator Kokurikuler yang Berkualitas

Program kokurikuler dapat dikatakan berkualitas apabila:

  1. memiliki tujuan yang jelas;

  2. relevan dengan kebutuhan peserta didik;

  3. terhubung dengan pembelajaran;

  4. kontekstual;

  5. memberikan pengalaman nyata;

  6. mendorong peserta didik aktif;

  7. memberikan ruang kolaborasi;

  8. mengembangkan karakter dan kompetensi;

  9. menghasilkan karya atau aksi yang bermakna;

  10. menggunakan asesmen yang sesuai;

  11. memberikan ruang refleksi;

  12. memiliki tindak lanjut;

  13. melibatkan lingkungan sekolah dan masyarakat secara relevan;

  14. terdokumentasi dengan baik; dan

  15. memberikan dampak terhadap perkembangan peserta didik.


R. Peran Kepala Sekolah

Kepala sekolah memiliki posisi strategis dalam memastikan kokurikuler tidak menjadi kegiatan tambahan yang berjalan sendiri.

Kepala sekolah perlu:

  • menetapkan arah program;

  • memastikan keterkaitan dengan visi dan tujuan sekolah;

  • membangun budaya kolaborasi;

  • mengalokasikan sumber daya;

  • memfasilitasi guru;

  • melakukan monitoring;

  • mendorong refleksi;

  • dan memastikan hasil kegiatan digunakan untuk perbaikan pembelajaran.

Dengan demikian, kepala sekolah tidak hanya menjadi administrator kegiatan, tetapi menjadi pemimpin pembelajaran.


S. Penutup

Program kokurikuler merupakan salah satu ruang penting untuk menghadirkan pendidikan yang lebih utuh.

Melalui kokurikuler, peserta didik tidak hanya belajar tentang sesuatu, tetapi belajar melakukan sesuatu, mengalami sesuatu, memecahkan masalah, bekerja bersama, menghasilkan karya, dan merefleksikan pengalaman.

Dalam perspektif Pembelajaran Mendalam, kokurikuler memiliki potensi besar untuk menghadirkan pembelajaran yang:

Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan.

Karena itu, sekolah perlu meninggalkan paradigma:

“Yang penting kegiatan terlaksana.”

menuju paradigma:

“Yang terpenting adalah pengalaman belajar dan perubahan yang terjadi pada peserta didik.”

Kokurikuler yang dirancang dengan baik akan menjadi jembatan antara kelas dan kehidupan, antara pengetahuan dan pengalaman, serta antara belajar dan bertumbuh.

Pada akhirnya, keberhasilan program kokurikuler bukan ditentukan oleh seberapa banyak kegiatan yang diselenggarakan, tetapi oleh seberapa jauh kegiatan tersebut mampu membantu peserta didik menjadi pribadi yang berkarakter, bernalar, kreatif, mampu bekerja sama, mandiri, sehat, komunikatif, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Sekolah hebat bukan sekolah yang paling banyak kegiatannya, tetapi sekolah yang mampu mengubah setiap kegiatan menjadi pengalaman belajar yang bermakna.

Landasan Regulasi

  1. Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

  2. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Peraturan ini ditetapkan 11 Juli 2025, diundangkan dan mulai berlaku 15 Juli 2025.

  3. Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2025 tentang Standar Isi pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

  4. Kebijakan dan panduan implementasi Kurikulum Merdeka yang diterbitkan melalui Sistem Informasi Kurikulum Nasional.

Contoh Program Kokurikuler:

1. Kelas 1

2. Kelas 2

3. Kelas 3

4. Kelas 4

5. Kelas 5; dan 

6. Kelas 6

2 komentar:

Posting Komentar